Siletperistiwa.com, Bengkalis – Makam Datuk Laksamana Bengkalis dan Makam Datuk Gigi Putih menjadi tujuan ziarah Tim Pelindung Cagar Budaya yang berasal dari Kabupaten Siak, Sumatera Utara (Medan), serta beberapa daerah lainnya. Dalam kunjungan ke Desa Temiang, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Selasa (30/6/2026), rombongan menemukan kondisi akses menuju situs sejarah tersebut masih memprihatinkan.
Tim yang dipimpin Ketua Tim Pelindung Cagar Budaya Kabupaten Siak, Tatang Syafrawi, bersama unsur LSM dan awak media, berziarah ke Makam Datuk Laksamana dan Makam Datuk Gigi Putih atau yang lebih dikenal sebagai Makam Syekh Abdullah.
“Disampaikan Ketua Tim Tatang Syafrawi beberapa waktu lalu dirinya bersama teman-teman juga mengunjungi atau ziarah ke beberapa makam Datuk yang berada di Kabupaten Bengkalis, dan ke Makam Datuk Laksamana III dan IV, waktu itu rencana langsung ziarah ke makam Datuk Laksamana I dan II, namun kondisi sudah terlalu sore dan informasi kondisi jalan yang sulit ditempuh kami tunda, hari ini tim berangkat dari Siak menuju ke sini,” tuturnya.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan langsung berziarah ke Makam Syekh Abdullah. Selain membersihkan semak dan rumput yang menutupi akses makam, mereka juga melaksanakan tahlil, zikir, serta doa yang dipersembahkan kepada Datuk Laksamana dan Datuk Gigi Putih.
Usai berziarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Makam Datuk Laksamana I. Perjalanan cukup sulit karena jalan sempit, berlumpur, serta minim papan penunjuk arah sehingga rombongan beberapa kali harus bertanya kepada warga.
“Rombongan setelah melalui kondisi jalan yang memperihatinkan hanya bisa dilewati sepeda motor tersebut, akhirnya sampai juga ke makam Datuk Laksamana I dan mengirimkan doa untuk Almarhum Datuk Laksamana, permaisuri dan almarhum para hulubalang maupun panglima dan pembesar yang telah gugur dimakamkan di sini,” tutur Tatang.
Rencana melanjutkan ziarah ke Makam Datuk Laksamana II akhirnya dibatalkan karena hari menjelang magrib dan kondisi jalan semakin sulit dilalui setelah diguyur hujan.
Saat diwawancarai, Tatang juga berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait memberikan perhatian terhadap keberadaan situs sejarah tersebut.
“Melihat kondisi jalan yang memang tidak bisa dilalui mobil ditambah kondisi jalan yang memperihatinkan sekali, sudah semak, sepi dan menuju ke makam Datuk Laksamana I dan II ini jalan tanah berlumpur musim hujan dan semak, kalau sendiri atau berdua ziarah ke sini memang rasanya takut melewati jalan kondisi seperti ini, ditambah tidak ada plang di depan jalan masuk di jalan besar, dan di simpang-simpang tidak ada jalan penunjuk arah sama sekali seperti yang kita lewati tadi,” ujar Tatang.
Hal senada disampaikan Ketua LSM Forkorindo Kabupaten Siak, Syahnurdin, dan Sekretaris LSM Forkorindo Kabupaten Bengkalis, Zulfahmi, S.Pd.I.
“Seperti tadi kita ziarah ke makam Datuk Gigi Putih yang bangunan kayunya sudah roboh menutup makam ditambah semak dan rumput sudah menjalar ke makam, dan kondisi jalan menuju ke makam Datuk Laksamana I dan II, tidak ada plang di depan jalan masuk dan penunjuk arah menuju makam, dan kondisi jalan rusak dan jalan tanah, kiranya pemerintah dapat memperhatikan hal tersebut,” ujar keduanya.
Mereka menilai situs cagar budaya harus mendapat perhatian serius agar tetap lestari.
“Kita sangat prihatin dengan kondisi demikian, citus cagar budaya atau citus sejarah ini haruslah dirawat dan dipelihara baik-baik agar anak cucu dan generasi kita dapat melihat dan tahu serta menghargai leluhur kita ini, jerih payahnya dan tumpah darahnya mempertahankan daerah ini dari penjajahan, kalau dibiarkan seperti ini tidak terawat dibiarkan saja, kita khawatir semua ini akan hilang dimakan waktu dan zaman, kalau begini bagaimana generasi kita ke depan,” tutur kedua ormas tersebut.
Tatang menambahkan, tim berencana kembali berziarah ke Makam Datuk Laksamana II yang belum sempat dikunjungi serta menelusuri situs-situs sejarah Melayu lainnya di Provinsi Riau.
Berdasarkan pantauan di lapangan, akses menuju Makam Datuk Laksamana I dan II masih berupa jalan tanah yang sempit dan berlumpur. Sementara di Makam Datuk Gigi Putih, bangunan kayu terlihat roboh akibat lapuk dan area makam dipenuhi semak belukar. Kondisi tersebut diharapkan segera mendapat perhatian pemerintah sebagai upaya pelestarian situs sejarah dan wisata religi di Kabupaten Bengkalis.**(Tim).

Leave a Reply